Make your own free website on Tripod.com

ENTAHLAH

AKU JUGA NGGAK TAHU

 

Situs Apa ini ?

  Wacana | Pendidikan | Agama Humaniora | Filsafat | Semiotika | Tips&Triks | Komputer | IT | Internet

HOME

Wacana

Pendidikan
    
Humaniora
    
Agama

Filsafat

Semiotika

Tips&Triks

Komouter

Internet

IT

 

NEWS

Fenomena keberagamaan masyarakat Indonesia yang plural, dan mempunyai warna tradisi berbeda, ini kemudia harus dipaksa tunduk di hadapan kuasa pengetahuan ...

Lengkap

 

NEWS

Michel Foucault (1928-1984) memulai karya intelektualnya dalam persoalan filsafat dan humaniora, tetapi hasilnya lebih bertendensi pada kajian tentang pola relasional kemasyarakat yang “naive truth claim”,

Lengkap

    

NEWS

Apakah lembaga pesantren merupakan karya budaya yang bersifat indigenous (asli) Indonesia ataukah model kelembagaan yang diimpor dari mesir sebagaimana yang diisyaratkan oleh Martin van Bruinessen...

Lengkap

 

Foucault dan Feminisme

Dalam mengurai diskursus yang melingkupi ruang feminisme, menjadi niscaya bagi para aktivis gerakan perempuan untuk berkonsentrasi pada aspek-aspek kekuasaan. Ia meliputi aspek alami, lokasi, cara operasi, distribusi dan sirkulasi kekuasaan. Satu diantara teori yang menjadi magnum-opus tentang detail operasional kekuasaan telah dipersembahkan oleh Michel Foucault. Beberapa karya yang digelutinya demi kepentingan menguak jaringan kuasa-pengetahuan terekspresi dalam konsentrasi arkeologisnya di Madness and civilization, dan dua karya genealogisnya, Disciplin and punish dan The history and sexuality (volume I).

Michel Foucault (1928-1984) memulai karya intelektualnya dalam persoalan filsafat dan humaniora, tetapi hasilnya lebih bertendensi pada kajian tentang pola relasional kemasyarakat yang “naive truth claim”, sehingga lebih banyak mengarah pada disiplin psikologi dan psikopatologi. Hal ini setidaknya tampak dari dua karya perdana, Madnes And Civilization (original French edition 1961) dan The Birth of Clinic (original frends edition 1963). Dalam dua karya besar inilah ia mula-mula terinspirasi dan berkepentingan secara konsisten dalam rentang hidupnya untuk mengabdi pada pencarian kerangka epistemologis yang beraras dari relasi antara pengetahuan dan kekuasaan.

Satu diantara inspirator terbesar Foucault dalam membuahkan hasil karyanya adalah Nietzsche. Nietzsche adalah sosok ‘genealog’ yang berkepentingan untuk membedah sisi subtansial dari wujudnya kebenaran, pengetahuan dan kekuasaan sebagai yang tak mungkin terlepas dari ruang asosiasi (baca: regim kebenaran). Bagi Nietzsche, fenomena keseharian dan realitas kesejarahan tak dapat dianggap sesederhana ruang sejarah yang linear. Namun ia lebih berwajah heterogen, sehingga perspektif apapun yang lahir dari rahim pengetahuan yang mengobyektifasi fenomena itu membutuhkan banyak cara pandang untuk ruang interpretasi. Sementara pemikir lain yang mengikut pada Nietzsche (Nietzschean) adalah seorang Prancis, Georges Bataille yang mengkritik post-Enlightment budaya barat. Ia memberanikan diri untuk memaparkan realitas heterogen; membela antusiasme pengalaman religius, seksualitas dan kemabukan yang kesemuanya akan ia jadikan obyek untuk menyelami dan melampaui batas rasionalitas kaum menengah eropa (men-transgressi) [Best and Kellner 1991 :35-36].

Kembali pada Foucault. Sebagaimana sekilas pemaparan diatas, ia menganalisa jaringan relasional antara kekuasaan, pengetahuan dan wacana (discourse) yang terbangun dari rajutan rasionalitas pencerahan. Rasionalitas pencerahan (Enlightment rationality) bagi Foucault, telah menghadirkan dirinya sebagai tata-nilai yang progressif dan emansipatoris. Selain itu Foucault melihat adanya normalisasi yang terstruktur dan frame rasional-empiris (empirico-rational) sebagai basis lahirnya kebenaran dan pengetahuan. Rasio pencerahan beserta institusi yang diciptakan selanjutnya menjadi aparatus hegemony sembari meniscayakan pola marjinalisasi terhadap diskursus lain. Dengan demikian rasio pencerahan secara sengaja menciptakan dan memvalidasi jaringan sosial (social network) dari kekuasaan normatif yang mendisiplinkan dan menundukkan individu  hingga pada level yang paling kecil.

Diskusi yang digelar Foucault tentang konstruksi kuasa modern sengaja dilokasikan dalam kerangka kerja pemikiran postmodern. Dalam menjaga konsistensinya dengan perspektif postmodern, ia kemudian mengkritik ruang modernitas beserta klaim universalisasi nalar modern. Sebagai tindak lanjut, ia menitik beratkan kajian tentang keperbedaan (multiplicity), keterputusan (discontinuity), keterpecahan (fragmentation).

Dalam penyelidikannya terhadap ruang modernitas, Foucault membedakan periode post-Renaissance sejarah manusia eropa dalam dua era: era klassik (1600-1800) dan era modern (1800-1950). Era klasik membentangkan perwajahan baru model dominasi hingga adanya pengistimewaan terhadap kerangka rasionalitas, subyektifitas, pengetahuan dan norma-norma sosial [Best and Kelner 1991 : 37]. Sementara itu di era modern, pola yang dikonfigurasi melanjutkan model dominasi dengan cara memperhalus dan menyebarkan ‘mekanisme dominasi’. Dalam mengetengahkan rasio modern inilah Foucault mengungkapkan :

The modern era refines and disseminates these ‘mecanisms of domination’ [Foucault 1980 :106].

Hasilnya, rasionalisasi tentang kesemrawutan dunia sosial secara konsisten diregulasi dan seluruh pengalaman kemanusiaan disusun kembali hingga menjadi tatanan yang utuh (construction unitary), formal dan menjadi scientific knowledge untuk kemudian berposisi sebagai wacana yang mendominasi selingkup pemikiran kaum mengeah eropa di abad modern.

Pengalaman manusia sampai pada level yang paling kecil seperti kegilaan (madness) dan seksualitas (sexuality) sengaja ia jadikan obyek yang menghebat dari analisis diskursif. Sebab dua hal tersebut berakibat secara langsung dalam rekonfigurasi kehidupan manusia eropa modern bersamaan dengan rajutan paradigma rasionalitas yang holistik tentang kebenaran dan pengetahuan. Paradigma holistik yang dianggap ideal ini selanjutnya berpengaruh pula pada tradisi tentang amatan historiko-politis seperti Marxisme, strukturalisme, dan liberalisme pencerahan yang -walaupun menjadi teory mereka yang ampuh—disebutnya sebagai  ‘totalitarian’ di tengah globalisme mereka sendiri dalam upaya meliput keseluruhan fakta-fakta. Malahan, dengan mengacu pada pola pendisiplinan manusia eropa hingga level terkecil itu, Foucault menyebut untuk sebuah ‘teotitical production’ yang  bebas, terlokasikan, dan terhindar dari amatan diskursus tradisional yang berada dibawah panji rasio-holistik. Walaupun dalam aplikasi teoritisnya ia menolak secara tegas pendekatan yang disebutnya totaliter diatas, namun pendekatan epistemologis yang ia terapkan memuat ... (lanjut ..!)

 
  Foucault Dan Feminisme-1
Foucault Dan Feminisme-2
Foucault Dan Feminisme-3
Foucault Dan Feminisme-4
Foucault Dan Feminisme-5
Foucault Dan Feminisme-6
Foucault Dan Feminisme-7
 
 
 
 

Eh ada yang asyik nih surfing di internet malah dapat duit, kalo pingin, daftar disini

 

Eh ada yang asyik nih surfing di internet malah dapat duit, kalo pingin, daftar disini