Make your own free website on Tripod.com

Pendidikan 1 : Studi Agama di Indonesia dan Mimpi Akan Wilayah Normativitas

Pendidikan 2 : MENILIK GLORIFIKASI SEJARAH DALAM EPISTEMOLOGI ISLAM

Pendidikan 3 : "ngaji becik ning ojo ngupokoro perkoro kang wus becik" 

               (MENGURAI DETERMINASI KULTUR PESANTREN DI IAIN)

 

"ngaji becik ning ojo ngupokoro perkoro kang wus becik"

 

MENGURAI DETERMINASI KULTUR PESANTREN DI IAIN

 

Iain sebagai institusi pendidikan formal dan akademis, masih sering berada dalam kondisi dilematis akibat pertautan dua variabel budaya besar, apakah kompromis dan mengikuti alur budaya moralis dan penuh asumsi-asumsi dogmatis ataukah melepaskan samasekali dengan memposisikan nilai-nilai akademis yang netral dengan basis keilmuan murni tanpa pertautan hegemoni agama?

 

Tidak ada catatan sejarah mengenai kapan institusi pendidikan pesantren ini pertama kali muncul di Indonesia, kecuali dikenal dalam bentuk awalnya pada sekitar Abad Pertengahan. Bentuk-bentuk kelembagaan pesantren yang lebih modern, sebagaimana dikenal sekarang, tumbuh sekitar peralihan abad ke-19. Kehidupan pesantren bertumpu pada lima pilar utama, yaitu masjid, pondok (asrama santri), kiai, santri, dan pengajaran kitab-kitab klasik atau yang disebut sebagai "kitab kuning."

Dalam kerangka pandang seperti itu pesantren dapat dihargai sebagai wadah khazanah budaya dan tradisi keilmuan islam. Dunia pesantren dalam berbagai variasinya merupakan tempat persemaian dan pusat di praktikkannya ilmu-ilmu keislaman sekaligus sebagai pusat penyebarannya.

Apakah lembaga pesantren merupakan karya budaya yang bersifat indigenous (asli) Indonesia ataukah model kelembagaan yang diimpor dari mesir sebagaimana yang diisyaratkan oleh Martin van Bruinessen merupakan persoalan yang tidak perlu dipersoalkan. Yang jelas peran kelembagaan pesantren dalam meneruskan tradisi keilmuan Islam klasik sangatlah besar. Ilmu-ilmu Islam yang berporos pada piramida kalam, Fiqih, dan tasawuf dengan berbagai variasi aksentuasi pembidangan yang menjadi cirikhas masing-masing pesantren merupakan wilayah sekaligus media pelestarian dan pengamalan ajaran dan tradisi Islam.

Ambil sebuah contoh, jika santri mempelajari atau mengkaji kitab ihya’ ulumuddin atau kitab Sullamut taufiq atau taqrib fil fiqh atau minhajul abidin, kemudian mempraktikkan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya dalam kehidupan sehari-hari, maka tampak jelas tergambar disitu betapa tali kesinambungan intelektual Islam klasik masih tampak kokoh dan kental. Dari segi tinjauan budaya mekanisme pelestarian ajaran-ajaran agama secara turun-temurun adalah merupakan peristiwa budaya yang sangat mengagumkan banyak pihak. Gambaran kesinambungan tradisi keilmuan Islam seperti itulah yang dikedepankan oleh Sayyed Hossen Nashr dalam bukunya Traditional Islam In The World.

Tradisi keilmuan Islam lebih khusus tradisi keilmuan pesantren dianggap sebagai kekayaan dan kekuatan spiritual yang perlu dipertahankan, tanpa harus dipertanyakan bagaimana asa-usul tradisi tersebut. Mempertanyakan tradisi berarti meragukannya, dan bahkan mengingkari wujud tradisi yang selama ini dipegangi dengan kokoh "membingungkan ummat." Tradisi merupakan sumber kekuatan mental spiritual yang mahaampuh untuk menahan badai perubahan dan pembangunan dalam segala bidang. Bentuk piramida pemikiran islam yang meliputi kalam. Fiqih dan tasawuf adalah bentuk bangunan yang ‘paten,’ yang goiru qabilin li taghyir wan niqas. Generasi yang ada sekarang tinggal mewarisi begitu saja warisan intelektual generasi terdahulu, tanpa sikap kritis.

Kutubus sufro mengikuti istilah populer untuk padanan tradisi keilmuan islam klasik dan tradisi keilmuan pesantren pada umumnya dianggap sebagai ‘produk jadi,’ ‘produk instant,’ ‘produk siap pakai,’ sehingga generasi yang datang belakangan – meskipun wilayah pengalaman keberagamaan mereka jauh lebih kompleks dan subtil bila dibandingkan dengan generasi sebelumnya—tidak perlu untuk meninjau kembali rusmusan-rumusan yang telah ada sebelumnya.

Determinasi kultur pesantren di IAIN

Sedikit setelah berputar-putar dan dapat menengok sebentar asap intelektual yang terus jalin-menjalin diatas dapur pesantren, yang nota bene tidak pernah mendapatkan akte akademis oleh institusi yang menaunginya (negara misalnya). Hingga selalu menjadi subkultur yang selalu memutar-mutar sendiri roda tradisi yang dimilikinya. Ada saudara paling dekat yang tak bisa dihindari pembahasannya ketika berbicara mengenai pesantren meskipun sebenarnya pola pertautan itu terlalu mengada-ada dan bukan asas. Yakni IAIN.

Sebuah institusi pendidikan formal milik negara (negeri) yang mahasiswanya kebanyakan berasal dari pesantren. Hingga kultur pendidikan yang melingkupinya sering mengalami banyak dilema akibat terpautnya kondisi tradisi keagamaan murni dengan moralitas dogmatis dan normativitasnya dan kebutuhan menyuguhkan kajian keilmuan murni.

Meski ada pengembangan disana-sini tradisi keilmuan klasik masih merupakan skala mayoritas dalam program studi yang dikembangkan di IAIN, dengan alibi konsep-konsep pengajaran baru yang dianggap memenuhi standard kemodernan. Hal tersebut sering terangkai dengan alih-alih menjaga moralitas dan normativitas agama yang menjadi asas tunggal dalam setiap penyajian ilmu pengetahuan. Hingga mahasiswa masih harus setiap saat, mengikuti alur pemikiran klasik untuk memenuhi standard akadiemis yang harus dimiliki. Pemenuhan masalah-masalah yang bersifat transendental spekulatif seperti wacana ketuhanan misalnya, harus terus mengulang-ulang dan mereprodukasi ulang belantara teologi hasil karya pemikiran klasik. Anehnya lagi, hal ini ditransformasikan dengan strategi pembeberan dan penyajian tokoh pemikiran, hingga mahasiswa tak pernah berusaha berani mencoba menatap inti permasalahan teologi karena masih harus terpaku dengan pemikiran tokoh yang difigurkan sebagai uswatun hasanah dan disajikan tanpa kritik.

Hingga ada semacam pameo: "nagaji becik ning ojo ngupokoro perkoro kang wus becik."(belajar boleh asal jangan mengutak-atik hal yang sudah baik). Sebuah andaian normativitas yang selalu menjadi imaji di tiap-tiap otak, untuk menampilkan upaya personal dalam membingkai nilai kritiknya dengan garis determinasi kultur pesantren yang jelas-jelas selalu mengajak kompromis dengan tatanan tradisi keilmuan islam klasik.

Wilayah pendidikan yang memberikan identifikasi paling besar adalah Fakultas Tarbiyah, lebih-lebih jurusan Pendidikan Bahasa Arab. hal tersebut dapat ditengarai dengan munculnya banyak tradisi-tradisi keilmuan klasik yang selalu direproduksi ulang dalam pembentukan kurikulum dan metodologi pengajaran. Sebenarnya hal tersebut tidak terlalu menjadi permasalahan kalau kemudian tradisi keilmuan tersebut di transver dengan mekanisme baru dan dengan obyek kajian yang lebih bebas. Tapi kenyataannya tidak, penyusunan mata kuliah dengan spesifikasi pemantapan fak bahasa arab masih belum bisa beranjak dari metode-metode klasik yang menjemukan dan monotone. Hingga lagi-lagi ada pernyataan menggelitik :"bedanya belajar gaya sorogan di pesntren dan di IAIN hanyalah kursi dan alas kakinya."

Hizbulloh Huda (Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa EDUKASI IAIN Sunan Ampel Surabaya)